Mars FSPMI Kami buruh fspmi Berjuang di sini karena hati kami Bukan karena digaji atau ingin dipuji Kami berjuang karena hak asasi Kami buruh fspmi Siang malam tetap mengabdi Tak peduli hujan tak peduli panas Susah senang ya solidarity Reff: Di sini bukan tempat buruh malas Atau mereka yang biasa tidur pulas Di sini tempatnya para pejuang Yang berjuang dengan keikhlasan Lawan lawan lawan lawan lawan Lawan lawan lawan sampai menang Satu komando wujud kekompakan Sabar dan loyal itu kewajiban Sekuat mental baja sukarela berkorban Berjuang dalam satu barisan Solidarity forever Solidarity forever Solidarity forever For the union make us strong.
Tampilkan postingan dengan label Sentilan Buruh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sentilan Buruh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2013

Manusia dan keadilan


Setiap kehidupan manusia dalam melakukan aktivitas nya pasti pernah mengalami perlakuan yang tidak adil. Jarang sekali kita mengalami perlakuan yg adil dari setiap aktivitas yang kita lakukan. Dimana setiap diri manusia pasti terdapat suatu dorongan atau keinginan untuk berbuat jujur namun terkadang untuk melakukan kejujuran itu sangatlah sulit dan banyak kendala nya yang harus di hadapi, seperti keadaan atau situasi, permasalahan teknis hingga bahkan sikap moral.

Kamis, 24 Oktober 2013

"KITAB TIDAK SUCI Pedoman Baku Pemimpin ORBA dan REFORMASI"


Tulisan ini saya buat pada 28 Mei 2013 pukul 3:32 wib
dan memang begitulah PEMIMPIN Negri ini berpedoman...

jadi bila kalian TETAP ingin melanjutkan cara perjuangan ini dengan berdialog dan diskusi ya silahkan, tapi bersiaplah untuk TETAP GAGAL dan KECEWA karena ditipu dan dikhianati......!!!

Kamis, 13 Juni 2013

Kami Harus Bergerak


Derita ini berawal dari apa yang kami(buruh/ pekerja) alami setiap hari sebelum akhirnya kami memutuskan harus bergerak untuk berjuang mendapatkan:

1. JAMINAN KESEHATAN, JAMINAN KEMATIAN, JAMINAN PENSIUN, JAMINAN KECELAKAAN KERJA, JAMINAN HARI TUA.
2. PENGHAPUSAN SISTEM KERJA OUTSOURCING(YAYASAN)
3. MENDAPATKAN UPAH YG LAYAK.

Minggu, 19 Mei 2013

KEKUASAAN , JABATAN DAN KEDHOLIMAN


Kekuasaan dan jabatan adalah sesuatu yang didamba-dambakan setiap orang, karena dengan jabatan dan kekuasaan itulah orang akan mendapatkan suatu kebanggaan dan keuntungan.

Tapi ingat kekuasaan dan jabatan itu bisa menjadi sumber kedholiman yang merugikan pihak lain.

Bila Anda pengusaha lalu Anda menarik keuntungan karena membayar karyawan Anda dengan upah yang murah, Anda telah melakukan kedholiman. Tidak perlu menjadi Marxian untuk menyadari proses penindasan seperti ini. Contoh, lemburan yang harus Anda bayar perjam terhadap buruh Anda adalah 100% lalu Anda kurangi 0,25% maka Anda telah makan hasil keringat karyawan / buruh Anda, Anda menikmati hidup Anda dengan memotong hak karyawan Anda, ini adalah kedholiman.

Bagi Anda-anda yg memiliki kekuasaan dan jabatan, Anda pun bisa melakukan kedholiman politikal secara kolektip dan terorganisir, misal Anda merampas hak-hak paling dasar dari para karyawan. Lewat serikat, Anda membatasi keinginan para buruh untuk mengaktualisasikan dirinya, membungkam mulut mereka, menutup peluang bagi mereka untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Anda juga dholim ketika Anda memanpaatkan wewenang yg Anda miliki untuk memperoleh keuntungan yg tidak wajar. Memang biasanya orang-orang yg memiliki jabatan sering menjadikan jabatan sebagai komoditas politik pencapaian keuntungan pribadi, tanpa peduli orang lain. 



Apa yg terjadi jika kedholiman dipertahankan? bila ada segelintir buruh / karyawan memperoleh keuntungan dan kemudahan, dan banyak buruh mendapatkan kesulitan dan penekanan, dalam kondisi seperti ini, kesenjangan sosial terjadi, rasa prustasi meluas dan buruh merasa tidak berdaya, ini melahirkan keresahan sosial. Dalam proses waktu, kondisi semacam ini akan berakumulusi, menggunung dan meledak menghancurkan tatanan proses industrialisasi yg ada.

Kedholiman dalam bentuk apapun merusak sendi-sendi integrasi sosial. Kedholiman dalam dunia perburuhan mendehumanisasikan para buruh dalam kubangan ketidak berdayaan, dengan menghasilkan karakter buruh yg berpikir kerdil, pasrah akan nasibnya.


Kedholiman kolektip bersipat struktural serta terorganisir inilah, salah satu penyebab penghambat kemajuan suatu bangsa.

Lahirnya para penjilat, para koruptor adalah merupakan ekses dari kedholiman kolektip terstruktur.

Hal ini bukan hanya terjadi dalam dunia perburuhan, tetapi secara lebih global terjadi di Negara yg konon katanya, ingin mensejahterakan rakyatnya. Salam kaum buruh.**

Kamis, 16 Mei 2013

PENGECUT


Pembaca yang budiman,
Siapa pun tentu tidak mau disebut pengecut. Ini terasa logis. Sekali sifat tersebut melekat pada seorang individu, ia bisa merendahkan martabat pemilik sifat itu. Tetapi, tanpa sadar ada individu yang sering kali bertindak pengecut. Karena khawatir tidak memperoleh tambahan pemasukan pada jabatannya yang baru, dia bertindak pengecut. Karena khawatir tidak dihargai lagi oleh relasi lamanya, dia bertindak pengecut. Misalnya dia bergerombol dengan orang-orang lain menuntut pimpinannya untuk mundur.

Mungkin saja individu di atas berhasil menjalankan rencananya. Dia bisa merasa menang. Tetapi, sesungguhnya dia tidak memiliki harga diri. Dia bahkan bukan organisme dalam dirinya sendiri, melainkan hanya sebuah skrup dalam sebuah mesin keberanian. Dia tidak pantas dihargai sama sekali. Dia sudah jadi hina dan nista.


Sebaliknya, seorang individu yang memiliki keberanian jadi sangat berharga. Keberanian bahkan menentukan kualitas seorang individu. Ini juga terasa masuk akal. Individu yang berani selalu memiliki prinsip kebenaran universal, bukan kebenaran kontekstual dan bukan pula kebenaran gerombolan. Tidak heran bila dia tidak bisa dibengkokkan dan disogok. Dia pun tidak bisa dibujuk rayu oleh janji-janji gombal.

Pilihan menjadi pengecut atau berani sepenuhnya terpulang pada diri kita sendiri. Tidak ada yang bisa memaksa kita harus menjadi berani atau pengecut. Tetapi, sejarah akan mencatat apa pun pilihan itu. Kalau sudah menjadi sejarah, banyak orang bisa membacanya dan mengetahui sifat kita. Maka, orang yang peduli dengan sejarah, biasanya, akan berpikir seribu kali untuk menjadi pengecut.***

Jumat, 22 Februari 2013

Inilah Si-para Penitip Nasib Itu

Dalam kesempatan diskusi dengan beberapa kawan tentang pergerakan buruh selalu saja terlontar betapa banyaknya kawan-kawan penitip nasib, ahh… ternyata betul juga lontaran kawan saya mengapa pergerakan ternyata dari kita sendiri banyak yang demikian. Dengan lontaran ini mencoba mencari mengapa sich sedemikian rupa mereka memilih yang demikian….tentu ini merupakan pilihan mereka dan tentu pula bertentangan dengan pola pergerakan itu sendiri, apa yang salah untuk pilihan mereka itu….
Apakah keberhasilan dari perjuangan serikat pekerja hanya dinikmati oleh mereka yang berjuang? Jika pada akhirnya semua menikmati, lalu mengapa harus capek-capek ikut berjuang? Pemikiran sesat seperti ini seringkali hinggap di benak banyak orang. Sadarkah mereka, jika partisipasi terhadap gerakan bisa dimaksimalkan, maka cita-cita perjuangan akan lebih cepat bisa diwujudkan?
Inilah beberapa yang menjadi alasan secara global dari pekerja (para penitip nasib) antara lain :
Banyak dikalangan pekerja belum memahami dan menyadari betapa penting arti Serikat Pekerja untuk melindungi, membela serta meningkatkan kesejahteraan.
Masih banyak pekerja menyerahkan seluruh masalah pada Pengurus Serikat Pekerja, dalam beberapa hal pekerja lebih mendahulukan haknya ketimbang kewajibannya, hal itu juga terjadi karena kurangnya komunikasi antara pekerja dengan Serikat Pekerja.
Serikat Pekerja sebagai lembaga perwakilan anggota, belum bekerja optimal, Kinerja organisasi masih lemah, karena lemahnya sumber daya manusia yang dimilikinya dalam kepengurusan, masih ada anggapan kuat bahwa sosial status penting, sehingga tugas organisasi hanya menjadi “jembatan” untuk memperoleh sesuatu.
Lemahnya Manajemen dan lemahnya dana organisasi berdampak besar terhadap kinerja organisasi.

Banyaknya Serikat Pekerja baik disatu perusahaan maupun ditingkat wilayah, terjadi dan dapat melahirkan perbedaan gaya dan perbedaan strategi, tidak jarang terjadi persaingan tidak sehat dan ini juga berpengaruh terhadap perjuangan Serikat Pekerja secara menyeluruh, baik ditingkat perusahaan maupun ditingkat wilayah dan nasional.
Dan inilah beberapa yang menjadi alasan secara personal dari pekerja (para penitip nasib) antara lain :

1. Tidak Mau Beranjak dari Zona Nyaman

Seberapa banyak buruh yang tingkat kesejahteraan di perusahaannya sudah setingkat lebih baik, seringkali partisipasinya terhadap gerakan melemah? Mereka yang merasa sudah mendapatkan segalanya, lalu merasa tidak lagi perlu terlibat dalam gerakan perubahan apapun? Sadarlah kawan, tidak ada jaminan, bahwa apa yang kalian nikmati hari ini akan tetap kalian nikmati nanti.

2. Usia yang Semakin Menua

Buruh yang sudah tua dan mendekati masa pensiun dalam beberapa tahun kedepan – dan ini jumlahnya relatif banyak – jarang ada yang bersedia untuk ikut dalam pendidikan serikat pekerja. Mereka beranggapan pendidikan seperti ini tidak penting lagi. Hanya buang-buang waktu. Hal ini diperparah dengan minimnya SDM pendidik dalam serikat buruh yang memahami dan mampu mengimplementasikan konsep pendidikan orang dewasa.

3. Malas

Rasa malas hadir, saat kita tidak memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan suatu kegiatan. Saat kita tidak bisa melihat, besarnya manfaat yang akan kita dapatkan.

4. Kesibukan

Berapa banyak buruh yang memilih lembur ketimbang belajar? Seberapa banyak lagi yang memilih usaha sampingan ketimbang datang dalam kegiatan yang diselenggarakan serikat pekerja? Lembur, terkadang menjadi solusi instan untuk menyelesaikan permasalahan akan kecilnya penghasilan. Tetapi itu bukan solusi yang paripurna. Tidak adakah keinginan dari mereka untuk membuat perubahan yang mendasar dan menyeluruh?

5. Biaya

Uang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya membutuhkan uang. Tak jarang kegiatan pendidikan urung dilakukan hanya karena permasalahan klasik : tidak tersedia anggaran. Bukankah pendidikan serikat pekerja tidak harus dilakukan di hotel berbintang? Di bawah langit dengan disaksikan ribuan bintang dan rembulan pun bisa dilakukan, bukan?

6. Keluarga

Pada satu sisi, keluarga juga bisa menjadi penghambat. Berapa banyak suami yang dilarang istrinya ikut kegiatan yang diselenggarakan serikat pekerja? Berapa banyak suami yang melarang istrinya untuk aktif dalam organisasi? Alangkah lebih indahnya, jika dalam keluarga tumbuh budaya untuk saling menguatkan. Memberikan dukungan, satu sama lain, untuk terus tumbuh dan berkembang. Bukan lantas menyandera pasangannya, di rumah.

dari berbagai sumber

Selasa, 05 Februari 2013

HAI BURUH !!!

HAI BURUH !!!
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.

HAI BURUH !!!
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu.

HAI BURUH !!!
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan, mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.

HAI BURUH !!!
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran. Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan) akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul, yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.

HAI BURUH !!!
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan, sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik, seolah-olah mabuk kepayang.

HAI BURUH !!!
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya, sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.

HAI BURUH !!!
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir, tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.

HAI BURUH !!!
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan tercela akhirnya menjadi sengsara.

HAI BURUH !!!
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.

HAI BURUH !!!
Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.

HAI BURUH !!!
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.

HAI BURUH !!!
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan, cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela, makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.

BEDEBAH...!!!

PARA PEMIMPIN PEMERINTAHAN DARI RT SAMPAI PEMERINTAHAN PUSAT... BPD SAMPAI DPD RI... JUGA APARAT KEAMANAN... SETIAP ADA KESEMPATA BERPIDATO SELALU BERPESAN... : "JADILAH KALIAN PEMUDA PEMUDA BANGSA YANG MERMARTABAT YANG SELALU MENEGAKKAN KEBENARAN... YANG SELALU MEMENTINGKAN KEPENTINGAN BERSAMA DARI KEPENTINGAN PRIBADI... JADILAH KALIAN PATRIOT PATRIOT YANG BERANI MEMBELA HARGA DIRI BANGSA..."

TATKALA PEMUDA PEMUDA (BURUH DAN RAKYAT) MENYUARAKAN DAN MENEGAKKAN KEBENARAN MALAH DIBUNGKAM...OLEH PARA PEMIMPIN DINEGRI INI...!!!

M U N A F I K . . . . . . !!!

WAHAI PARA PEMUDA (BURUH) JANGANLAH DIAM... DINEGRI PARA BEDEBAH...!!!
JIKA KALIAN DIAM... KALIAN AKAN MENJADI PARA BEDEBAH...!!!
BAHKAN YANG LEBIH TRAGIS LAGI... KALIAN AKAN MENJADI SANTAPAN PARA BEDEBAH...!!!

Kamis, 24 Januari 2013

Hal-hal TERBESAR bagi seorang Buruh

Hal-hal TERBESAR bagi seorang Buruh

Satu lagi untuk menyegarkan lamunan Sahabat Buruh yang mungkin saja suntuk dengan rutinitas harian, apalagi sedang tanggung bulan :

hal-hal TERBESAR bagi seorang Buruh

1. Motivasi terbesar adalah gaji.
2. Kesialan terbesar adalah promosi tanpa kenaikan gaji.
3. Kejutan terbesar adalah bekerja biasa tapi tiba-tiba gaji naik.
4. Bakat terbesar adalah berpura-pura sibuk tapi tak melakukan apa-apa.
5. Kesalahan terbesar adalah membantah bos.
6. Penurun semangat terbesar adalah terlambat menerima gaji.
7. Kesedihan terbesar adalah tidak menerima gaji karena bos melarikan diri.
8. Kebahagiaan terbesar adalah menjadi bos dari bos sekarang.
9. Kecerdikan terbesar adalah datang terlambat tapi bos tidak tahu.

Masih kurang ini ada lagi



10. Ketololan terbesar adalah bilang pada orang lain bahwa kita ini malas.
11. Kebiasaan terbesar adalah bos mengatakan sesuatu padahal artinya lain.
12. Keinginan terbesar adalah memecat bos sendiri.
13. Kekesalan terbesar adalah anda bekerja keras tapi orang lain yg dipuji.
14. Kepuasan terbesar adalah bisa saling berkirim email & facebook-an.

Rabu, 23 Januari 2013

TENTANG DIAM

TENTANG DIAM

Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi komentar..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam menegur..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi nasihat..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memprotes..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam persetujuan..

tapi..

Biarlah DIAM kita mereka faham artinya..
Biarlah DIAM kita mereka terkesan maknanya..
Biarlah DIAM kita mereka maklum maksudnya..
Biarlah DIAM kita mereka terima tujuannya..

karena..

DIAM kita mungkin disalah artikan..
DIAM kita mungkin mengundang prasangkaan..
DIAM kita mungkin tidak membawa maksud apa2..
DIAM kita mungkin tak berarti..

maka..

jika kita merasakan DIAM itu terbaik..
seharusnya kita DIAM..
namun seandainya DIAM kita bukanlah sesuatu yang bijak..
BERKATALAH..!!
sehingga mereka DIAM..

Selasa, 22 Januari 2013

Untuk Para Penitip Nasib


Kalian selalu mengatakan, jika apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang sia-sia. Sesuatu yang tidak layak untuk dilakukan. Tidak perlu. Karena bisa dipastikan akan berujung pada kegagalan dan menimbulkan kegalauan bagi banyak pihak.

Kalian selalu mengira, bahwa kami melakukan semua ini dengan pamrih. Hanya untuk kepentingan pribadi. Memperkaya diri. Mencari popularitas dan ingin dipuji.

Kalian selalu memiliki prasangka. Dan sayangnya, prasangka tidak baik yang kalian kedepankan. Jika pun kami memberikan penjelasan atas salah sangka kalian itu, selalu saja ada sejuta alasan bagi kalian untuk membuat pembenaran atas semua prasangka buruk itu.

Tahukah kalian, semua kalimat-kalimatmu tidak akan berpengaruh sedikitpun bagi kami. Justru sebaliknya. Kami semakin tertantang, bahwa apa yang kalian sangkakan hanyalah omong kosong. Ia justru menjadi pemantik semangat. Menjadi pegas, yang justru akan melejitkan kami pada capaian tertinggi. Meminjam kalimat dalam sebuah puisi yang pernah kami dengar: hujan badai dan panas terik, tidak akan memperluas atau mempersempit langit.

Kami sangat yakin terhadap apa yang kami inginkan. Bahwa apa yang kami cita-citakan akan tercapai. Cinta akan berbalas, dan manisnya buah perjuangan akan kami rasakan.

Itulah sebabnya, kami tidak pernah berputus asa. Kami terus melangkah, meski tertatih. Kami percayay dengan sepenuh hati, bahwa perjalanan ini akan sampai pada tempat yang dituju.

Lalu ketika semua apa yang kami perjuangkan mendapatkan hasil yang gemilang. Dan kalian ikut menikmati hasilnya, mulut kalian tidak juga berhenti membicarakan tentang kami. Kini nyatalah bagi kami: bahwa kalian adalah makhluk yang dikirim oleh Tuhan agar kami menjadi semakin kuat dan hebat.

Tetap tersenyum. Sebab berawal dari itu, banyak hal akan terlihat lebih ranum.


Source: Link

Minggu, 20 Januari 2013

Para penitip nasib itu keji, tak punya hati, dan bodoh, karena:

1. meminjam atau meriba tenaga, pikiran dan bahkan nyawa kawan-kawannya;

2. Semakin banyak penitip nasib maka kemungkinan menang akan semakin kecil karena (jumlah) tekanan massanya semakin kecil (sedikit). (Kalau anda pernah berjuang, anda pasti tahu bahwa kapitalis itu tidak bisa diajak berunding, apalagi cuma lewat telpon dan SMS, tak akan dianggap.). Jadi para penitib nasib itu mencelakakan semuanya karena memperkecil kemungkinan untuk menang.

3. Tapi, bila menang, para penitip nasib itu ikut menikamati hasilnya--seperti kenaikan upah tahun lalu dan kesejahteraan-kesejahteraan lainnya. Dan para penitip nasib itu tenang-tenang saja--tidak merasa tercekik tenggorokannya saat makan dan minum--menikmati hasilnya beserta keluarganya. Jadi, para penitip nasib itu tidak takut sama Tuhannya--menafkahi keluarganya dari hasil riba.

Danial Indrakusuma, mahaguru EKOPOL FSPMI

Lembur vs Kesejahteraan dan Penyerapan Tenaga Kerja

PENINGKATAN kesejahteraan buruh dapat ditempuh dengan beragam cara, salah satunya adalah menolak kerja lembur. Sekilas kelihatan tidak masuk akal, namun bagaimanakah logikanya ?


Perusahaan akan terus meningkatkan kapasitas produksinya dan menekan biaya produksinya serendah mungkin untuk bisa tetap dapat berkompetisi di dunia bisnis. Salah satu cara meningkatkan kapasitas dengan biaya murah adalah dengan meminta (memaksa) buruh bekerja lembur, langkah yang lebih murah jika dibandingkan dengan harus melakukan penambahan tenaga kerja dan alat produksi baru.


Beberapa kawan buruh di berbagai daerah sering kali bersatu menolak lembur, dan ketika hal ini dilakukan, maka dampak yang diterima perusahaan adalah ketidaksanggupan untuk meningkatkan kapasitas produksinya dengan biaya murah. Maka opsi yang dimunculkan perusahaan untuk bernegosiasi dengan (membujuk) buruh adalah peningkatan upah, bisa melalui beragam tunjangan, sehingga opsi untuk menambah jumlah tenaga kerja dan alat produksi (yang berbiaya tinggi) masih dapat dihindarkan.


Dari sinilah maka muncul ruang bagi buruh (melalui serikat pekerja/buruh) untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan diri dan keluarganya, kesempatan mengajukan perundingan untuk peningkatan upah pun dapat dilakukan dengan baik, misalnya penambahan tunjangan perumahan, seperti yang kita rasakan bersama, bahwa biaya perumahan di Batam lebih tinggi dari patokan survey KHL yang ditentukan pemerintah.


Selain daripada peningkatan kesejahteraan, penolakan terhadap lembur, seperti telah diuraikan diatas juga dapat membuat perusahaan mengambil opsi penambahan jumlah tenaga kerja dan penambahan alat produksi. Bagaimanakah opsi ini dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja yang telah ada sebelumnya di perusahaan tersebut? Sering kali buruh/pekerja mengkhawatirkan dengan penambahan jumlah tenaga kerja, maka kesejahteraan yang selama ini didapatkan melalui lembur akan berkurang. Namun sesungguhnya dengan ditempuhnya opsi penambahan jumlah tenaga kerja, juga akan membuka ruang peningkatan kesejahteraan bagi buruh/pekerja yang sudah ada sebelumnya.


Seperti diketahui bersama bahwa upah di Batam, jika dibandingkan dengan KHL (Kebutuhan Hidup Layak) masih tertinggal dari daerah lain semisal DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sementara tujuan investasi masih tertumpu di daerah-daerah Jawa, maka sasaran utama pencari kerja adalah masih di daerah Jawa, dan hal ini yang membuat daerah seperti Batam kesulitan dalam mendatangkan tenaga kerja.


Tentunya hal ini akan membuat perusahaan-perusahaan yang ada di daerah Batam berupaya untuk menarik minat pencari kerja, seperti misalnya penyediaan dormitory (perumahan pekerja), peningkatan upah dan lain sebagainya. Di sisi lain pemerintah sebagai penyelenggara negara tentu akan memperhatikan kesulitan-kesulitan pengembangan industri di Batam, seperti dalam hal kesulitan pencarian tenaga kerja. Maka langkah logis yang dapat ditempuh oleh pemerintah, salah satunya adalah peningkatan standar upah minimun di Kota Batam, seperti yang telah terjadi di tahun 2013 ini dengan angka kenaikan yang cukup signifikan, dari Rp. 1.402.000,- menjadi Rp.2.040.000,-.

Sabtu, 12 Januari 2013

SATU INSTRUKSI SATU KOMANDO jangan Cuma lipservice saja....

Suka atau pun tidak suka ternyata ,karena kesibukan ataupun karna perbedaan pendapat yang akhir-akhir ini terjadi, SLOGAN SATU KOMANDO ini agaknya sedikit memudar dalam organisasi kita...

Karna itu supaya SLOGAN ini tetap menjadi SLOGAN KEBANGGAAN dan SLOGAN KEKOMPAKAN kita ,...

dan agar SLOGAN SATU INSTRUKSI SATU KOMANDO ini lebih mendarah daging dalam hati dan jiwa kita...

Mari kita renungkan beberapa ayat dibawah ini:



Allah berfirman:


“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali(agama)Allah dengan BERJAMAAH(baca:berserikat), dan janganlah kamu bercerai berai,

dan INGATLAH akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (baca:belum berserikt) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah(baca:Serikat), orang-orang yang bersaudara; dan(ingatlah dulu) kamu telah berada di tepi jurang neraka(baca:penindasan KAPITALIS), lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

(QS:Ali Imron:103)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemegang urusan/pengurus/perangkat)di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

(QS:Annisa:59)

” Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati." Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu)

(QS:Almaidah :7)



Rosulullah SAW bersabda:


“Siapa yang Taat padaku maka dia Taat pada Allah, siapa yang durhaka padaku maka dia durhaka pada Allah, dan siapa yang Taat pada perangkat ku maka dia taat padaku, dan siapa durhaka pada Perangkat ku maka dia durhaka padaku”(HR Bukhori )

KEWAJIBAN Mendengar dan Taat kepada PEMIMPIN adalah dalam perkara yang DISUKAI atau DIBENCI selama tidak diperintah Maksiat, dan apabila diperintah MAKSIAT maka tidak boleh MENDENGAR dan TAAT” ”(HR Bukhori )

..................................................................................................................................

“Kita harus SATU KOMANDO....!!!

Masih siap satu KOMANDO gak....?

Siap satu KOMANDO....????

Siap.....!!!!”



Inilah SLOGAN yang sangat sering kita dengar pada Perjuangan kita...


Inilah SLOGAN yang selalu di GAUNGKAN oleh anggota baru,anggota lama,ataupun anggota yang sudah BANGKOTAN dalam serikat buruh .....!!!!



Ya, inilah SLOGAN yang telah menghantarkan begitu banyak kemenangan dalam Perjuangan kita....


Ya, inilah SLOGAN yang telah MEMERDEKAAN ribuan bahkan jutaan Buruh dari perbudakan Modern dalam sistem kerja Outsourcing dan Kontrak berkepanjangan....



INSTRUKSI KOMANDO pemiliknya adalah Pengurus atau perangkat yang telah disumpah untuk TIDAK MAKSIAT....


INSTRUKSI KOMANDO dikeluarkan atas dasar MUSYAWARAH oleh Pengurus atau perangkat dalam keputusan TERBAIK untuk semua anggota......

Satu Instruksi satu komando adalah KEKUATAN UTAMA kita....



Karna itu Marilah kita tetap MENDENGAR dan TAAT untuk Kebaikan Bersama.....


Karna itu SATU INSTRUKSI SATU KOMANDO jangan Cuma lipservice saja....!!!!!



Tetapkan Niat....


Tegakkan Amanat....

Mari genggamkan tangan dan Rapatkan Barisan...

Satu Insruksi Satu Komando...Kita Pasti MENANG......!!!!!


Senin, 03 Desember 2012

ORANG BODOH VS ORANG PINTAR

Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis
Agar bisnis berhasil, ia merekrut orang pintar
Walhasil, boss orang pintar adalah orang bodoh

Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka rekrut orang pintar utk memperbaiki yg salah
Walhasil, orang bodoh memerintah orang pintar utk keperluannya.

Orang pintar belajar utk mendapatkan ijazah & mencari kerja.
Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang utk membayar orang pintar

Orang bodoh berpikir pendek utk memutuskan sesuatu yg dipikirkan panjang2 oleh orang pintar.
Walhasil orang pintar menjadi staf orang bodoh

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang pintar yang bekerja
Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pintar akan menghabiskan waktu utk bekerja keras dgn hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu utk bersenang2 dgn keluarganya

Mata orang bodoh selalu mencari apa yg bisa dijadikan duit
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan pekerjaan

Bill Gates, Dell, Henry Ford, Liem Swie Liong tidak pernah dapat S1, tapi menjadi kaya. Ribuan orang pintar bekerja utk mereka dan ribuan jiwa keluarga bergantung pada mereka.
PERTANYAAN :
- Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh ?
- Pinteran mana, orang pinter atau orang bodoh ?
- Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh ?
KESIMPULAN :
Jangan lama2 jadi orang pinter
Jadilah orang bodoh yg pinter, daripada jadi orang pinter yg bodoh

Kata kuncinya adalah 'resiko' & 'berusaha'.
Karena orang bodoh berpikir pendek, maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul2 kecil.

Orang pinter berpikir panjang, maka dia bilang resikonya besar, selanjutnya dia tidak berusaha mengambil resiko tsb, & mengabdi pada orang bodoh.

Di manakah posisi kita saat ini ?

Berhentilah meratapi keadaan kita yg sekarang.
Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan.

Semua Pilihan & Keputusan ada di tangan kita untuk merubahnya.

Go success..Go Freedom !

Selasa, 27 November 2012

Bukalah HATI dan PIKIRANMU Kawan



KAWANKU sang PENITIP NASIB.....!!!!
Kalo banyak DEMO BURUH nanti INVESTOR pada TAKUT... Kalo banyak DEMO BURUH nanti PERUSAHAAN pada TUTUP... kalo investor TAKUT, perusahaan TUTUP
kalian bisa NGANGGUR, ntar gak Punya UANG, ntar Gak Makan, kalian bisa Mati...MATI...MATI...!!!!
WooW... ungkapan yang sepertinya PINTAR, penuh LOGIKA...

TAPI....??? Petani bilang...kami gak kerja di Perusahaan, Kami punya buah-buahan.... Nelayan bilang...kami ga
k kerja di
Perusahaan, kami punya ikan- ikan... Pedagang bilang...kami gak kerja di Perusahaan, punya uang....

Mereka SEMUA bilang... ”kami gak kerja di Perusahaan, kami punya Uang, kami TETAP makan, Kami Masih HIDUP”

jadi TOBATLAH...
jangan jadi KAFIR.. karena rezeki ALLAH Yang NGURUS.. bukan
PERUSAHAAN..!!!
KAWANKU sang PENITIP NASIB....!!!!! Kalo perusahaan Tutup....KALIAN bisa ngojek, bisa jualan pulsa, bisa bertani...

kalau perusahaan mau Mogok...KALIAN bisa istirahat/ cuti ...gaji KALIAN masih dibayar...
kalau GURU mogok...murid bisa belajar Lewat buku, Internet,... KALIAN tetap kerja

kalau PRESIDEN/ PEJABAT/POLISI/TNI/ MOGOK....Gak da masalah tuh buat KALIAN.....
Tapi... LIHAT kalau KALIAN MOGOK...ekonomi STAG, kalian semua Gak GAJIAN, ekonomi NEGARA Mandeg... pejabat negara Kelabakan....

KAWANKU sang PENITIP NASIB....!!!!!
Kami menyatukan tekad untuk Bergerak karena Kami YAKIN akan sebuah KEBENARAN.

KEBENARAN bahwa YANG TERPENTING disebuah NEGARA bukan PEJABAT atau DPR....
KEBENARAN bahwa YANG TERPENTING disebuah NEGARA bukan MENTERI atau PRESIDEN....
Tapi...
YANG TERPENTING disebuah NEGARA adalah PETANI/NELAYAN Penyuplai MAKANAN.....
YANG TERPENTING disebuah NEGARA adalah PEKERJA/BURUH penggerak mesin-mesin Perusahaan
YANG TERPENTING disebuah NEGARA adalah Kami..!!
Kami KAUM BURUH PENGERAK EKONOMI NEGARA.....!!!!

KAWANKU sang PENITIP NASIB....!!!!!
Kita ini sebagai PEKERJA di Indonesia dengan apa yang disebut SUSAH rasanya sudah KENYANG
Kita ini sebagai Bangsa mengalami apa yang disebut oleh Bung Karno “UP to DOWN”.....Naik sebentar__turun terus, timbul
sebentar__tenggelam terus, pasang sebentar__surut terus...

LULUS SEKOLAH cari kerjaan TIDAK ADA .....kita SUSAH Ada Lowongan Kerja, OUTSOURCING, masuk harus bayar, cari pinjaman gak ada...SUSAH lagi Sudah kerja.

DATANG tanggal GAJIAN, gaji DIPOTONG, gaji Gak CUKUP.....SUSAH lagi Sudah KERJA,
Jatuh SAKIT, KECELAKAAN KERJA, JAMSOSTEK gak ada...SUSAH lagi....

Sudah KERJA, Mau daftar SERIKAT di INTIMIDASI MANAGAMENT, diHAJAR PREMAN, diHANTAM UNION BUSTING....Susah lagi....

Sudah punya serikat, sudah bisa BERUNDING,..Managament INGKAR, Perusahaan KHIANAT... Susah Lagi....

KAWANKU sang PENITIP NASIB....!!!!!
Kalau SUSAH kita ini sudah AKRAB.... Kalau SUSAH
kita ini sudah INTIM .... Karena SUSAH seperti itu.
jangan SALAH SIKAP menyikapi KESUSAHAN.... TETAP
pelihara KEYAKINAN....
KESUSAHAN atau KESULITAN bukan untuk DITAKUTI tapi untuk DIATASI.

Hidup adalah PERJUANGAN...!!! Hidup adalah KERJA KERAS....!!! Hidup Bukan KEAJAIBAN...!!!
PERUBAHAN tidak akan datang hanya dengan SIM SALABIM ABRA KADABRA... PERUBAHAN tidak akan MUNCUL hanya dengan BERANDAI-ANDAI....

PERUBAHAN tidak akan TURUN dari LANGIT seperti turunnya EMBUN diwaktu Malam...
PERUBAHAN hanya bisa diperoleh dengan cara kita BERGERAK..

Bukan dengan CARA DIAM!!!
Bukan dengan CARA DIAM!!!
Bukan dengan CARA DIAM!!!
Bukan dengan CARA DIAM!!!

KAWANKU sang PENITIP NASIB....!!!!
MASIHKAH KAU MAU JADI PECUNDANG???
Source: Link

Selasa, 13 November 2012

7 Alasan Buruh Tidak Aktif Dalam Serikat Pekerja



1. Banyaknya Penitip Nasib

Apakah keberhasilan dari perjuangan serikat pekerja hanya dinikmati oleh mereka yang berjuang? Jika pada akhirnya semua menikmati, lalu mengapa harus capek-capek ikut berjuang? Pemikiran sesat seperti ini seringkali hinggap di benak banyak orang. Sadarkah mereka, jika partisipasi terhadap gerakan bisa dimaksimalkan, maka cita-cita perjuangan akan lebih cepat bisa diwujudkan?

2. Tidak Mau Beranjak dari Zona Nyaman

Seberapa banyak buruh yang tingkat kesejahteraan di perusahaannya sudah setingkat lebih baik, seringkali partisipasinya terhadap gerakan melemah? Mereka yang merasa sudah mendapatkan segalanya, lalu merasa tidak lagi perlu terlibat dalam gerakan perubahan apapun? Sadarlah kawan, tidak ada jaminan, bahwa apa yang kalian nikmati hari ini akan tetap kalian nikmati nanti.

3. Usia yang Semakin Menua

Buruh yang sudah tua dan mendekati masa pensiun dalam beberapa tahun kedepan – dan ini jumlahnya relatif banyak – jarang ada yang bersedia untuk ikut dalam pendidikan serikat pekerja. Mereka beranggapan pendidikan seperti ini tidak penting lagi. Hanya buang-buang waktu. Hal ini diperparah dengan minimnya SDM pendidik dalam serikat buruh yang memahami dan mampu mengimplementasikan konsep pendidikan orang dewasa.

4. Malas

Rasa malas hadir, saat kita tidak memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan suatu kegiatan. Saat kita tidak bisa melihat, besarnya manfaat yang akan kita dapatkan.

5. Kesibukan

Berapa banyak buruh yang memilih lembur ketimbang belajar? Seberapa banyak lagi yang memilih usaha sampingan ketimbang datang dalam kegiatan yang diselenggarakan serikat pekerja? Lembur, terkadang menjadi solusi instan untuk menyelesaikan permasalahan akan kecilnya penghasilan. Tetapi itu bukan solusi yang paripurna. Tidak adakah keinginan dari mereka untuk membuat perubahan yang mendasar dan menyeluruh?

6. Biaya

Uang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya membutuhkan uang. Tak jarang kegiatan pendidikan urung dilakukan hanya karena permasalahan klasik: tidak tersedia anggaran. Bukankah pendidikan serikat pekerja tidak harus dilakukan di hotel berbintang? Di bawah langit dengan disaksikan ribuan bintang dan rembulan pun bisa dilakukan, bukan?

7. Keluarga

Pada satu sisi, keluarga juga bisa menjadi penghambat. Berapa banyak suami yang dilarang istrinya ikut kegiatan yang diselenggarakan serikat pekerja? Berapa banyak suami yang melarang istrinya untuk aktif dalam organisasi? Alangkah lebih indahnya, jika dalam keluarga tumbuh budaya untuk saling menguatkan. Memberikan dukungan, satu sama lain, untuk terus tumbuh dan berkembang. Bukan lantas menyandera pasangannya, di rumah.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Outsourcing Versi Mas Jum

(Ringkasan obrolan penulis dengan Mas Jum, aktivis buruh lokal Bandung) Mbuh, apa yang mendorong Ibu Megawati Presiden kita, saat men-sah-kan UU No.13 Tahun 2003 silam, padahal menurutku saat itu UU tersebut adalah “neraka” bagi buruh. Dibalik slogannya sebagai ksatria pembela ‘wong cilik’ dan pembela kaum yang tertindas, ternyata justru menjerumuskan ‘wong cilik’ tersebut.

Banyak pasal dalam UU tersebut yang menjadikan ‘wong cilik’ ini semakin menjadi ‘wong cuuiiilllik tenan’ bahkan mendegradasi penghargaan sebagaimana layaknya terhadap “wong” (manusia).
Sebut saja pasal-pasal yang melegalisasi perbudakan (pasal 64), mempekerjakan anak-anak (pasal 69), Cuti Haid (Pasal 81), degradasi nilai fasilitas kesejahteraan (pasal 100), degradasi nilai pesangon (pasal 156) dll.
Perbudakan = Outsourching
 
Perbudakan (menurut Wikipedia Bahasa Indonesia) adalah sebuah kondisi di mana terjadi pengontrolan terhadap seseorang (disebut budak) oleh orang lain. Perbudakan biasanya terjadi untuk memenuhi keperluan akan buruh atau kegiatan seksual.

(Masih menurut Wikipedia) Para budak adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tiada punya hak asasi manusia. “Slave” berasal dari perkataan slav, yang merujuk kepada bangsa Slavia di Eropa Timur, yang masyarakatnya mayoritas adalah budak.

Dimasa lalu, selain dipersembahkan kepada raja atau pemimpinnya, budak dijadikan komoditas jual beli atau barter. Para pemilik budak atau cukong budak adalah mereka-mereka dari kaum yang memenangkan peperangan yang menjadikan tawanan perangnya sebagai budak, boleh dibilang “stok” akan berlimpah saat satu kaum memenangkan perang, dan sebaliknya saat peperangan kalah ‘stok’ pun berkurang.

Namun peperangan tidaklah selamanya berlangsung, Untuk memenuhi ‘stok’ budak para cukong budak ini berburu ke kantong-kantong masyarakat yang mayoritas hidup miskin, mereka menipu, membohongi, menjerat korban dengan hutang yang tak mungkin terbayar, membelinya, membawanya dengan jalan paksa dan sebagainya.

Di masa lalu, para budak diperlakukan kejam, budak hanya diberi makan dan fasilitas hanya untuk mempertahankan hidupnya sendiri, sekali melanggar titah majikan atau berbuat kesalahan, maka budak ini akan ditendang keluar dan dikembalikan ke pemiliknya, jika budak sakit-sakitan tak segan budak tersebut untuk dibunuh dan dibuang jauh-jauh, karena tuannya (cukongnya) pun tak sudi menerima kembali budak yang sakit-sakitan.

Di masa lalu wajar saja perbudakan merebak, karena barangkali raja-nya tidak pernah mengangkat MENKUMHAM (Menteri Hukum dan HAM), tidak ada Komraj HAM (Komisi Kerajaan HAM), tidak ada Pemerhati HAM (Human Right Watch) dan tidak ada LSM-LSM
yang mencari uang atas nama
HAM.

Illustrasi: Dijual Murah
Dijaman saiki, agen-agen budak merebak dimana-mana, budak jaman sekarang bukanlah dipersembahkan untuk raja atau presiden, tapi dijual ke juragan-juragan pemilik perusahaan, agen atau cukong setiap hari merekrut ratusan budak, mencari ke kampung-kampung dan sudut-sudut kota, beraksi menjelang kelulusan dan wisuda anak sekolah dengan bursa kerjanya, membuat iklan di tivi, Koran dan radio, menawarkan pekerjaan layaknya pemilik perusahaan.

Dijaman saiki setiap bulan agen budak (perusahaan perbudakan) meng-interview ribuan budak, mengelompokan serta menyimpannya dilemari-lemari cabinet dengan tak lupa membubuhkan ‘price list’ dan barcode, si A layak dijual ke juragan minyak, si B layak dijual ke raja tekstil, si C layak dijual sebagai waitress di Warung Kopi, si D layak dipajang sebagai Bulldog dan seterusnya.

Dijaman saiki, dengan legalisasi pemerintah, pengusaha leluasa memilih budak di agen-agen perbudakan, mencari yang paling murah upahnya, yang paling semangat bekerjanya, tidak sakit-sakitan, yang tampan, yang cantik, jarang hamil, tidak pernah menuntutupah dsb, jika budak sudah kadung dipilih pun pengusaha tak segan untuk menendangnya keluar jika ternyata sang budak kondite-nya tidak sesuai dengan yang diharapkan, sakit-sakitan, hamil, menuntut naik upah, berkelompok (berserikat), dll.

Dijaman saiki, Upah dan waktu kerja budak dipatok dan dikontrol oleh cukong (agen perbudakan), akibatnya banyak diantara para budak yang upahnya hanya bisa untuk makan sendiri serta bayar upeti kepada cukongnya, tanpa ada sisa untuk disetorkan kepada keluarga atau simbok di kampung, jika budak sakit si cukong dan si pengusaha saling lempar tanggung jawab, yang pada akhirnya dibiarkan begitu saja tanpa iba dan belas kasihan.

Dijaman saiki “Perbudakan” sudah tidak ada, yang ada adalah “Outsourcing”, Barangkali pembuat undang-undang sudah gengsi dan tabu mencantumkan kata “perbudakan’ dalam undang-undangnya, sama halnya istilah korupsi yang sudah diganti dengan “penyalahgunaan” dll. Namun pada hakikatnya praktek-praktek perbudakan secara kasat mata berlangsung dimana-mana, bakhan di-legal-kan atau di-sah-kan dengan peraturan perundangan seperti pada UU No.13 tahun 2003 tsb.

Dijaman saiki katanya presiden wis ngerti kabeh soal HAM, bahkan Menteri HAM pun diangkat, Pemerhati HAM sudah masuk ke pelosok pedesaan (HAM masuk desa), LSM-LSM ada disetiap sudut gang.

Balik lagi ke pengertian perbudakan menurut Wikipedia diatas, perbudakan adalah sebuah kondisi di mana terjadi pengontrolan terhadap seseorang oleh orang lain, yang berkaitan dengan buruh dan eksploitasi seksual, Jadi what the different between perbudakan dimasa lalu dan outsourching dijaman saiki? OUTSOURCING = TIDAK MELINDUNGI

Puji syukur pada Tuhan YME, dijaman saiki Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD bisa mengatakan bahwa sistem pekerja lepas “outsourcing” merupakan sistem yang sangat tidak memberikan perlindungan kepada pekerja terutama untuk kaum lemah, bahkan Mahfud MD ini berani bilang: “Untuk itu kami memutuskan melarang adanya sistem “outsourcing” untuk melindung masyarakat kecil dari kesemena-menaan pihak-pihak terkait,”.

Selain itu, kata dia, larangan adanya “outsourcing” ini adalah untuk tetap menjaga para pekerja dari perlakuan kurang manusiawi dan bisa diberikan hak-hak sebagaimana undang-undang yang ditetapkan.


Ilustrasi: Workers Isn't Slaves

Kulo yakin sekali Pak Mahfud MD ini pun ngertos (isi) UU No.13 tahun 2003 sejak dulu, tapi kenapa baru ngerespon ketidakberesan UU tsb saiki yo!?

MK membuat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 27/PUU-IX/2011 tanggal 17 Januari 2012, namun aku mensinyalir dikabulkannya uji materiil Didik Suprijadi dkk, pekerja dari Aliansi Petugas Pembaca Meter Listrik Indonesia (AP2ML), bermuatan listrik (karena yang mengajukan adalah buruh pencatat meteran listrik PLN) sebagaimana diketahui bahwa Menteri BUMN yang sekarang adalah Pimpinan tertinggi di PT PLN sebelumnya, yakni Pak Dahlan Iskan (takut nama baik pak DI kesetrum gitu lho?!!), koq, kebayang dipikiranku, nek sing ngajukan uji materiil itu adalah karyawan outsourcing di PT.Ecek-ecek yang udah belasan tahun terus dikontrak walaupun pekerjaanya itu-itu aja, dikabulkan opo ora yo?

Sejarah menunjukan bahwa sebelum tahun 2003, jutaan buruh yang dimotori serikat pekerja bergerak mulai dari daerah sampai ke Istana Negara, mengusung tema penolakan UU 13/2003, bahkan beberapa demonstrasi berakhir ricuh, salah satu tema yang diusung saat itu adalah menolak legalisasi outsourcing yang nyata-nyata dimuat dalam UU tersebut
Tapi, (dari pada tidak) kita patut berikan apresiasi buat Pak Mahfud MD dkk di MK ini, selain gebrakan politik, ternyata Pak Mahfud MD ini, concern juga pada kesejahteraan serta kelangsungan hidup mayoritas penduduk Indonesia (buruh).

Saiki tinggal nunggu follow up putusan MK tersebut dari Menakertrans Cak Imin (Muhaimin Iskandar), apakah surat edaran atau keputusan atau peraturan yang dikeluarkannya sebagai pengejawantahan dari penghapusan outsoucing, atau malah makin menyelubungkan praktek perbudakan.

Saya sih pesimis, masalahe yang punya dan yang mem-backing perusahaan outsourcing, mayoritas bukan ‘wong cilik’ sekelas AAL yang nyuri sandal jepit, ato Mas Kasno yang tukang Bakso ning prapatan kuwi, tapi para petinggi institusi keamanan, petinggi partai, pejabat pemerintah dan sodara-sodara-nya, dan bahkan ada pemilik agen outsourcing sekaligus pemilik perusahaan itu sendiri (walaupun terselubung), jadi selain bisa jual barang produk perusahaanya dia juga bisa menjual pekerjanya.

Nah, nek wis koyo ngono berbenturan dengan orang-orang seperti itu lagi, mana berani Cak Imin menertibkan perbudakan (outsourcing) yang menjadi tugas institusinya.
Siap-siap aja tukang peti dan tukang es mendapat proyek dari MK dan Menakertrans…
Ngono mas! (penulis menutup obrolan sambil nyruput kopi…)
Ooooo…gitu ya Mas? Mantaaap…

Korelasi Sumber Berita:
Sumber Gambar Ilustrasi: