Mars FSPMI Kami buruh fspmi Berjuang di sini karena hati kami Bukan karena digaji atau ingin dipuji Kami berjuang karena hak asasi Kami buruh fspmi Siang malam tetap mengabdi Tak peduli hujan tak peduli panas Susah senang ya solidarity Reff: Di sini bukan tempat buruh malas Atau mereka yang biasa tidur pulas Di sini tempatnya para pejuang Yang berjuang dengan keikhlasan Lawan lawan lawan lawan lawan Lawan lawan lawan sampai menang Satu komando wujud kekompakan Sabar dan loyal itu kewajiban Sekuat mental baja sukarela berkorban Berjuang dalam satu barisan Solidarity forever Solidarity forever Solidarity forever For the union make us strong.

Kamis, 18 April 2013

Pesan dari : OMAH TANI - Batang


Pesan dari :

Omah Tani - Batang...

12 April 2013 - 14 April 2013  Tim Ekspedisi Omah Buruh, belajar dari Omah Tani. Peserta terdiri dari +/- 102 peserta dari 48 PUK SPEE FSPMI Bekasi, yang di kepalai oleh bung Nurdin Muhidin PC SPEE FSPMI Bekasi.

Adalah bapak Handoko Wibowo tinggal di Dukuh Cepoko, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Batang, adalah tempat persinggahan berbagai kalangan, yang dikenal dengan Omah Tani.


Omah Tani adalah komunitas merupakan gerakan.  Beragam orang seperti petani, lembaga swadaya masyarakat, politikus, dan mahasiswa, datang ke rumahnya, termasuk buruh.
Handoko adalah kontradiksi. Ia berlatar belakang etnis China dan seorang Kristiani di tengah
mayoritas Muslim petani pantai utara Jawa itu. Rumahnya — warisan orangtua — berdiri di atas tanah delapan hektar, di tengah petani penggarap yang rata-rata tidak punya tanah.


Kontradiksi ini pula yang sempat dipertanyakan Partai Rakyat Demokratik ketika berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. Itu mempersoalkan kondisi borjuasi Handoko yang kontradiktif dengan kelompok petani yang dia perjuangkan.


"Sulit menjelaskannya, tetapi itulah misteri kehidupan," kata putra sulung pasangan Teguh Budi Wibowo (almarhum) dan Lena Indriana itu.

Keputusannya bertahan sejak tahun 1998 hingga sekarang mendampingi petani Batang merupakan perpotongan pengalaman masa lalu ayahnya, pergaulan masa kecilnya dengan anak petani, serta rasa belas kasihan terhadap nasib petani penggarap Batang.
Ayahnya — orang terkaya di Batang periode 1960- an — ditahan tiga bulan karena di indikasikan anggota Partai Komunis Indonesia oleh orang China sendiri hanya karena aktif di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki).
Ayahnya juga menjadi korban pemerasan pejabat, sehingga selalu ingin dekat penguasa dan
jenderal.


"Karena itu Ayah mendorong saya belajar hukum, supaya tidak di kurangajari", tuturnya.

Eksperimen politik

 
Sekembalinya ke Bandar tahun 1987 seusai menamatkan kuliah hukum di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, ia mendapati perusahaan cengkeh ibunya bangkrut dan menjadi korban pemerasan. Setelah ikut membantu membereskan utang, tahun 1991 Handoko mendapat izin Pengacaranya. Kasus pertama yang dia tangani adalah kasus ibunya sendiri menghadapi gugatan berhubungan dengan nya.


Kasus keduanya adalah menjadi anggota tim hukum Arief Budiman yang dipecat UKSW pada 31 Oktober 1994. Dari situ ia berkenalan dan belajar dari sejumlah advokat senior yang juga anggota tim, seperti dan Nursyahbani Katjasungkana.


Kasus publik yang akhirnya membuatnya ikut gerakan petani Batang adalah saat menjadi
pengacara Keluarga Korban Limbah Kali Banger Pekalongan. Di Pengadilan Negeri Pekalongan dua tahun lalu kasus ini menang, kecuali ganti rugi yang dianulir dari Rp 750 juta menjadi Rp 50 juta. Sejak itu ia didatangi warga yang berkonflik tanah.


"Kerja reformasi ini seperti kerja di sarang laba-laba. Makin kita berusaha keluar, makin
ditarik", ujarnya.


Pernah ada suatu fase, yaitu 17 Agustus 2001, ia sempat berpikir bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat. Ia sempat berpamitan kepada teman petaninya. Namun, besoknya rumahnya didatangi petani yang memintanya tidak pergi.


 "Dengan berat hati tidak saya teruskan, tetapi tetap tinggal di sini", katanya.

Mbah Mardjukan (85th), petani yang pernah tinggal 15 tahun di Pulau Buru karena dituduh terlibat Barisan Tani Indonesia tahun 1965, terkesan oleh pidato Handoko yang dinilainya "progresif revolusioner".


"Ia berpidato agar petani segera sadar menuntut haknya atas tanah. Kata-kata 'menuntut hak' itu kan politis", ujar Mbah Mardjukan.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Batang Jakub Widodo menyebut Handoko sebagai orang ketiga di peta perpolitikan lokal Batang setelah Bambang Bintoro, Bupati Batang dari PDI-P, dan Agus Tjondro Prayitno, anggota DPR dari Fraksi PDI-P.


"Handoko adalah kekuatan penyeimbang antara Bambang Bintoro dan Agus Tjondro", ujar Jakub.
Meskipun demikian, Handoko sama sekali tidak tertarik masuk ke dunia politik. Berangan- angan pun tidak.


 "Ini bagian dari inkonsistensi gerakan kalau saya masuk politik", ujarnya.

Kini bersama Forum Paguyuban Petani Nelayan Batang Pekalongan (FP2NBP), Handoko "bereksperimen" mengubah gerakan mereka dari gerakan sosial menjadi gerakan politik. Mereka berupaya merebut jabatan politik di pemerintahan desa dan DPRD Batang dengan memperkuat basis  dan representasi. Dengan demikian calon yang diperoleh benar-benar berakar.
Handoko mengaku sedang belajar bagaimana mengubah orang-orang ini menjadi orang yang
demokratis. 


"Harapan saya, mereka menjadi petani dan buruh yang bermartabat", ujarnya.
 
Mengapa kita perlu  "Go Politik ????" Ungkapan Bapak Handoko kepada Tim Ekspedisi Omah Buruh.
"Dulu kita menganggap politik itu kejam, jahat dan pendusta...
Kita sudah terperangkap tipu muslihat mereka, supaya kita Golput...
Secara otomatis mereka akan terpilih wakil mereka (imperialis dan antek2nya) dengan cara membuat DPT siluman dengan embel2 sogokan...
Secara otomatis pula tujuan busuk mereka berjalan mulus tanpa ada pengawas yg benar2 mengawasi pemerintahan, yang ada hanya pengawas bayaran....
Tapi setelah dipikir2, kita memang harus terjun ke ranah politik...
Karena kita bisa menyampaikan aspirasi lewat wakil kita di Pemerintahan...
kita didik mereka, kita angkat mereka dengan tidak mengesampingkan visi dan misi kita, yaitu mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia...tanpa embel2 kepentingan pribadi.."

Kesimpulan:

Jika kita terjun ke ranah politik, kaum imperialis dan sejenis akan berpikir panjang untuk membuat koloni jahat, karena ada wakil rakyat yang selalu mengawasi gerak gerik kaum mereka....
Untuk itu, sudah saatnya kita memilih wakil dari Serikat Buruh/Serikat Pekerja...
Wakil kita akan selalu diawasi dan di pantau kinerja nya...tanpa mengubah visi dan misi....

Siapkah kita memilih pemimpin pemerintahan dari Wakil kita...!!!
Jangan lihat bendera/partainya...

Dikutip dari :

Omah Tani - Batang...
Mohon maaf jika ada keterangan / penulisan kurang pas mohon pencerahan.

Salam solidaritas tanpa batas....

Thanks to   Heru Kakashi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar